[vc_row][vc_column][crocal_single_image image=”1456″][crocal_empty_space height_multiplier=”2x”][vc_column_text]Jakarta, 15 Juli 2020 Kota Surabaya adalah salah satu episentrum penyebaran virus corona setelah DKI Jakarta. Paska tidak diperpanjangnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya, aktivitas warga mulai dilonggarkan. Pada saat yang sama jumlah peningkatan kasus infeksi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) semakin tinggi. Merespon situasi ini, LaporCovid-19 bersama Social Resilience Lab, Nanyang Technological University (NTU) melalukan survei persepsi risiko Covid-19 di kalangan warga Kota Surabaya. Tujuan survei ini adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman, pengetahuan, serta perilaku masyarakat terkait risiko Covid-19.

Studi ini dilakukan dari tanggal 19 Juni hingga 10 Juli 2020 dan berhasil mendapatkan 5.904 responden yang tersebar di seluruh wilayah kota Surabaya. Setelah uji validitas dilakukan, terdapat jumlah total 2,895 responden yang valid.

Metode dan Hasil

Kami menggunakan Metode Quota Sampling berdasarkan variabel penduduk per kelurahan yang ada di Kota Surabaya. Survei online dilakukan melalui platform Qualtrics yang disebar melalui aplikasi pesan instan (WhatsApp) melalui bantuan tim Humas Pemerintah Kota Surabaya serta Jaringan komunitas warga.

Studi persepsi risiko ini menggunakan tiga metode analisa, yaitu statistik deskriptif untuk mendapatkan gambaran demografi responden serta informasi dasar terkait variabel studi; analisa Spearman rho untuk mengukur korelasi antar variabel dan faktor demografi; dan formulasi pengukuran indeks persepsi risiko (Risk Perception Index) yang digunakan untuk mengukur kecenderungan umum dari persepsi risiko responden terhadap situasi pandemi dengan memasukkan 6 variabel, yakni Risk Perception, Self-Protection, Information, Knowledge, Social Capital, dan Economy.

Sebanyak 40,2% responden adalah perempuan. Dari aspek pendidikan, sebagian besar responden adalah lulusan Sarjana (47,1 persen) dan SMA (36,1 persen). Sebagian besar responden adalah pegawai swasta (36,6 persen), diikuti oleh Ibu Rumah Tangga (15,8 persen) dan PNS/ASN (15,5%). Dari sisi risiko kesehatan terhadap infeksi Covid-19, sebanyak 21 % persen responden memiliki riwayat/sedang mengindap penyakit komorbiditas.

Temuan

Secara keseluruhan, skor Risk Perception Index (RPI) warga Surabaya adalah sebesar 3,42, artinya, secara deskriptif, skor ini berarti warga Surabaya secara umum memiliki tingkat persepsi risiko yang cenderung “Agak Rendah.” Jika diterjemahkan ke dalam bahasa kebijakan, skor ini menunjukkan bahwa pelonggaran pembatasan sosial belum bisa diterapkan secara penuh di Surabaya akibat masih rendahnya tingkat persepsi risiko warga.


Survei ini dipimpin oleh Sulfikar Amir dari NTU, salah satu kolaborator ahli Laporcovid19.org. Beliau bisa dihubungi di: +62 821-1728-6288 

Instagram: @Laporcovid19
Twitter: @LaporCovid
FB: Lapor Covid 19
Siaran ulang bisa disaksikan di YouTube Lapor Covid 19[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_column_text]

Materi Presentasi Sulfikar Amir, PhD

[/vc_column_text][crocal_empty_space][vc_column_text]

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Website | + posts

1 Comment

  1. Ya..mmg AKB belum bisa seutuh nya dilaksanakan masyarakat……mungkin lebih baik merupakan suatu jewajiban bg masyarakat dlm melaksanakannya. Jk tidak menerapkan AKB sebaiknya yg sanksi yg memiliki rfek jera..


Leave a Reply to MEIDERSAYENTI Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *