⅓ Warga DKI Masih Khawatir Akan Vaksin Covid-19

SIARAN PERS

 ⅓ Warga DKI Masih Khawatir Akan Vaksin Covid-19

 

Jakarta, 13 Juni 2021 Hingga Sabtu (12/6) 2,87 juta warga Jakarta telah divaksin dosis pertama dan lebih dari 1.86 juta orang telah mendapatkan vaksinasi Covid-19 kedua. Meski DKI Jakarta menduduki peringkat kedua sebagai provinsi dengan cakupan vaksinasi terbanyak setelah Bali, namun pelaksanaan vaksinasi masih menemui berbagai macam halangan termasuk kekhawatiran warga. Merujuk dari temuan Pemprov DKI Jakarta dan beberapa berita di media, salah satu tantangan terbesar program vaksinasi adalah penolakan masyarakat terhadap vaksin. Isu-isu seperti keharaman, efek samping, ketidakmanjuran, hingga aksesibilitas vaksin menjadi masalah yang harus ditangani bersama.

Merespon hal ini, LaporCovid-19, Lab Intervensi Sosial dan Krisis – Fakultas Psikologi UI, dan Social Resilience Lab, NTU melakukan studi berbasis survei untuk menggali hambatan dan memetakan persepsi warga DKI terhadap vaksinasi. Survei dilakukan selama dua minggu dari 30 April-15 Mei 2021 dan diikuti oleh 57.231 responden yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta, namun hanya 47.457 responden yang menyelesaikan survei dan tervalidasi. Sebagian besar responden adalah lulusan SMA (53,8 persen) dan Sarjana (13,6 persen), Ibu Rumah Tangga (42,8 persen), Pekerja Swasta ( 15,48 persen) dan Pekerjaan Lain sebesar 10,9 persen saja. Dari sisi risiko kesehatan terhadap infeksi Covid-19, 70,95 persen responden mengaku tidak memiliki komorbiditas. Survei dilakukan secara online dengan penarikan sampel menggunakan metode Convenience Sampling. Penyebaran survei dibantu oleh Biro Tata Pemerintahan DKI Jakarta dan jaringan komunitas warga. Untuk mempelajari hambatan dan faktor yang mendorong warga DKI untuk divaksinasi, kami menggunakan pendekatan Health Belief Model yang mengukur kecenderungan umum kekhawatiran, kerentanan, hambatan, dan manfaat vaksinasi.

 

Kehalalan, Kemanjuran Vaksin, dan Efek Samping Masih Menjadi Isu
Salah satu temuan utama survei ini adalah meski sebagian besar warga DKI yang mengikuti survei merasa yakin dan bersedia untuk divaksin, namun ⅓ responden (10.789 orang) khawatir bahwa vaksin Covid-19 tidak halal. Menariknya, isu kehalalan vaksin ini bukan menjadi milik pemeluk agama Islam saja, namun juga tercermin dari mereka yang non-muslim. Selain itu masih ada 34% responden (16.102 orang) yang khawatir terhadap kemanjuran vaksin Covid-19, yang artinya menganggap vaksin Covid-19 belum mampu melindungi dari infeksi virus SARS-nCov2. Sementara, 32% responden (14.889 warga) takut akan efek samping vaksin atau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Menariknya, mereka yang berusia 50-60 tahun (pra-lansia), dengan pekerjaan TNI/POLRI dan tenaga kesehatan merupakan kelompok yang tertinggi memiliki kekhawatiran terkena efek samping vaksin Covid-19..

Selain itu, survei ini menunjukkan bahwa mayoritas warga DKI (70%) relatif tidak memiliki hambatan yang berarti dalam mendapatkan informasi seputar pendaftaran dan lokasi vaksinasi serta transportasi. Namun, sebagian kecil responden (13,4 persen atau 6.366 orang) mengaku masih memiliki kesulitan dalam mengakses informasi tentang vaksinasi. Meski jumlah responden lansia hanya 18,7 persen, tetapi sepertiganya (32,56 persen) kelompok umur lansia menunjukkan ketergantungan pada orang lain untuk mendaftar dan berangkat ke tempat vaksinasi.

 

Rekomendasi
Meski jumlahnya relatif kecil, 8 persen responden survei ini menyatakan tidak bersedia divaksin. Namun, mengingat DKI Jakarta masih memiliki tren penularan Covid-19 yang cukup tinggi dan bahkan belakangan menunjukkan melonjaknya kembali pasien positif Covid-19, diperlukan upaya-upaya serius dan strategis untuk menanggapi kekhawatiran akan vaksin yang cukup tinggi (⅓ warga khawatir berarti 1 dari 3 warga memiliki kekhawatiran) agar cakupan vaksinasi terus meningkat. Jangan sampai kekhawatiran yang dimiliki warga menyurutkan mereka untuk divaksin, terutama untuk menghindari situasi pandemi kembali memburuk sebelum upaya mengatasinya melalui vaksinasi membaik (menghindari “it get worse before it gets better”). Oleh karena itu, berdasarkan temuan-temuan survei ini kami merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Mengintensifkan edukasi dan sosialisasi untuk wilayah dan kepada kelompok warga DKI Jakarta yang masih memiliki kekhawatiran cukup tinggi akan efektifitas dan manfaat vaksinasi, efek samping, dan kehalalan vaksin.
  2. Menyasar secara lebih spesifik wilayah dan kelompok warga untuk menyampaikan pesan kunci mengenai efektifitas dan manfaat vaksinasi, rendahnya risiko kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) dan kesiapan tata laksana penanganan KIPI, dan kehalalan vaksin. Pesan kunci disampaikan menggunakan bahasa, medium pesan, dan penyampai pesan yang sesuai dengan wilayah dan kelompok warga yang disasar.
  3. Mempermudah warga untuk mengakses layanan vaksinasi, yaitu dengan cara sebagai berikut :
    1. Melanjutkan dukungan untuk warga miskin (menggerakkan RT/RW, sosialisasi dari
      pintu ke pintu, bantuan transportasi dll.)
    2. Memberi kemudahan dalam penjadwalan dan kemudahan mengakses lokasi
      vaksinasi (terutama untuk pra-lansia dan lansia)
    3. Menjamin program vaksinasi tanpa dipungut biaya

Dengan karakter khasnya sebagai ibukota dengan infrastruktur (kesehatan, komunikasi informasi dll.) yang relatif lebih baik dibandingkan dengan provinsi lain, maka penjangkauan dan optimalisasi cakupan vaksinasi di DKI Jakarta akan memberikan indikasi keberhasilan vaksinasi Covid-19 secara menyeluruh di Indonesia. Keberhasilan vaksinasi Covid-19 di DKI Jakarta akan memberikan cermin awal mengenai kesiapan untuk suksesnya vaksinasi di Indonesia.


Studi ini dipimpin oleh Dicky Pelupessy, Ph.D, salah satu kolaborator ahli laporcovid19.org. Ia dapat dihubungi melalui nomor berikut:
HP: +62818824402
Instagram:
@Laporcovid19
Twitter: @LaporCovid
FB: LaporCovid19
Siaran ulang bisa disaksikan di YouTube LaporCovid-19
Siaran Pers ini dapat diunduh melalui tautan berikut.
Presentasi Siaran Pers ini dapat diunduh melalui tautan berikut.